Cermin
Apa jadinya jika dirumah kita ndak punya cermin… pikiran itu sempat terlintas dibenakku ..merupakan suatu hal yang merepotkan sekali… Apalagi kalau mau menghadiri undangan kenegaraan pastinya menghabiskan waktu berjam-jam di depan cermin mengutak atik dandanan yang serasi,,, bak orang bilang lebih enak memuji diri sendiri di depan cermin sebelum dipuji orang laen..( perasaan dikit boleh lah..ketimbang ndak ada yang muji.) heehhee…
Kalau pergi ketukang cukur disetiap dindingnya berhiaskan cermin.. supir metro mini biar kata bermandikan keringat ndak kalah aksi ama pejabat kalo dah berada di depan cermin , kebiasaan bercermin milik siapa saja. Dengan bercermin seolah-olah menjadikan manusia lebih percaya diri ( itu kata guru saya..kalo berorasi di depan kelas harus banyak latihannya di depan cermin biar ndak gugup ) mungkin hal ini yang buat teman saya selalu percaya diri , walaupun pernah ketimpuk pintu keasikan bercermin dipelataran mall yang berhiaskan kaca..heehee..
Alkisah sang raja mengadakan suatu perhelatan di istananya mengundang para pelukis pelukis handal di seluruh penjuru negerinya, Berbagai pelukis handal dengan berbagai keahliannya mulai mengguratkan kuas di kanvas kanvasnya mempersembahkan karya terbaiknya di hadapan sang raja. Disetiap lukisan disediakan selubung ( biar ndak bisa nyontek kali yachh ).. diantara pelukis itu seorang pemuda hadir dalam perhelatan dengan berbekal sebuah pengikir mulai bekerja dengan tangannya penuh kehati-hatian, tak ada kanvas yang di goreskannya… tak ada tinta yang di bekalnya..sang raja bertanya..” hai pemuda mengapa belum kau goreskan sebentuk lukisan diatas kanvasmu..sementara waktu untuk kau persembahkan karyamu hampir usai.” Sang pemuda berujar ” Wahai paduka yang mulia hamba melukis dikanvas dengan hati, jika waktunya khan tiba akan saya perlihatkan hasil lukisan hamba dihadapan paduka.” Dan tibalah saatnya pelukis pelukis mempertontonkan keindahan guratan diatas kanvas membuat seluruh istana berdejak takjum..dan pada gilirannya sang raja memanggil sang pemuda untuk memperlihatkan hasil karyanya. Sang pemuda melangkah ke sebuah lukisan yang terindah dan meletakkan selubungnya tepat dihadapannya, perlahan dilepaskannya kain selubung yang menutupinya , sebuah cermin berkilau , bersinar-sinar memancarkan keindahan , cermin memantulkan keindahan disetiap sudutnya ketika tiitik matahari menembus dari langit-langit jendela bagaikan sebuah keindahan yang terhampar di dipelupuk mata , keindahan laksana taburan permata di lautan , menyempurnakan lukisan sang pencipta dan membingkainya dalam kebersihan hati dari debu-debu kehidupan. Cermin hati khan terjaga dijiwa memantulkan lukisan diri dalam cahaya illahi…..
Agustus 13, 2008 pada 12:37 pm
Lukisan Alam adalah maha Karya abadi sang Pencipta alam raya. keindahannya tak mampu tertandingi oleh karya terbaik abad ini sekalipun.
subhanallah…..
Agustus 13, 2008 pada 2:14 pm
Asal jangan buruk muka cermin dibelah
Agustus 13, 2008 pada 2:54 pm
cermin yg baik adalah yang sering dibersihkan, walau kotornya sedikit.
karena kalau terlalu lama ga dibersihkan, akan sulit nantinya..
“seperti hati kita”
Agustus 13, 2008 pada 3:31 pm
seandainya gak ada cermin, maka ada permukaan air yang memantulkan bayangan diri.
salam kenal,
mew
Agustus 13, 2008 pada 5:23 pm
salam
saya ndak punya cermin yang khusus ada juga cermin bekas spion motor, klo bercermin cukup depan kompi.
hati maunya seperti cermin yang bening sehingga bisa memantulkan kebaikan Illahi. Amin
Agustus 17, 2008 pada 3:57 am
Sebelum menasehati orang lain bercerminlah pada diri sendiri dulu