Kemaafan
Titik-titik hujan yang turun membasahi bumi, menggenang di hujung trotoar jalan dimalam-malam yang larutkan hening..langkahku terhenti diketeduhan sebuah rindang pepohonan hijau nan rindang melepaskan lelah di ttitik air yang memberikan karunianya.
Kembali ku kembali di pelataran kota yang telah lama tertinggal jauh di penghujung belahan dunia..lintasan yang tak lagi sama, pepohonan yang menjulang..warna-warna penghidupan yang bergerak maju..dipenghujung hari yang merobek hari..manusia -manusia yang menapaki hari dalam mengakais lembaran-lembaran rejeki illahi dalam kepenatan hari dalam peluh..
Diantara Terik mentari beralaskan peluh, di malam yang pekat riak-riak kehidupan malam bergajut memberi warna diantara kehidupan yang bergulir..Kehidupan yang terus berputar disisa hari sang pencari yang membalut cinta dalam memapah kehidupan di belai malam digelar secangkir kehangatan bertemankan semburan asap yang mengawan terperi menatap arah kehidupan..
Kehidupan yang tak pernah lelah menebar hari,..Matahari yang tak pernah jenuh menebar sinarnya…Rembulan yang setia menemani Malam…Adakah manusia Lelah mengarungi Hidup..Adakah manusia jenuh menorehkan kebenaran….Adakah manusia melupakan arti kesetian Cinta dan kasih sayang terhadap sesama…Adakah tersedia kemaafaan yang terukir di relung jiwa…
Ketika Pintu Kemaafan terlebar luas di rahmatnya..adakah manusia yang terpenjara dalam kebencian menyelimuti dendam..terkukung rasa..melupakan makna keikhlasan meraih kedamaian..Dititik hujan yang membasahi bumi yang teramat rapuh dilangkah yang terkulai lelah ku genggam asa tuk kembali menuai arti kemaafan diri.
Agustus 27, 2008 pada 11:45 am
Kehidupan yang tak pernah lelah menebar hari,..Matahari yang tak pernah jenuh menebar sinarnya…Rembulan yang setia menemani Malam…Adakah manusia Lelah mengarungi Hidup..Adakah manusia jenuh menorehkan kebenaran….Adakah manusia melupakan arti kesetian Cinta dan kasih sayang terhadap sesama…Adakah tersedia kemaafaan yang terukr di relung jiwa…
Bagus nian…
Agustus 27, 2008 pada 11:47 am
mohon maad lahir dan batin ya pak…
moga amal ibadah kita diterima oleh Nya
Agustus 27, 2008 pada 1:18 pm
semoga kita senantiasa memperbaiki diri dengan kemaafan
Agustus 27, 2008 pada 5:34 pm
Wah keren sekali… saya ga bisa tuh bikin sastra kaya gituan….
Mohon maap aja sebelum Ramadhan ya Mas…
Agustus 28, 2008 pada 1:06 am
narasi yang indha dan eksotis, makaih postingannya. selamat menyongsong kehadiran bulan suci dengan kebeningan dan kejernihan hati, mohon maaf lahir dan batin, mas rizal.
Agustus 28, 2008 pada 6:10 am
“Ketika Pintu Kemaafan terlebar luas di rahmatnya..adakah manusia yang terpenjara dalam kebencian menyelimuti dendam..terkukung rasa..melupakan makna keikhlasan meraih kedamaian..Dititik hujan yang membasahi bumi yang teramat rapuh dilangkah yang terkulai lelah ku genggam asa tuk kembali menuai arti kemaafan diri”
mohon maaf lahir batin yah pak..
Agustus 28, 2008 pada 9:00 am
Saling memaafkan yuk…..
Agustus 28, 2008 pada 10:49 am
Maafkan saya ya bang … hanya ini yang saya inginkan. Tulisan tentang maaf ini luar biasa, penulis sejati memang begini nih, ajari saya.
Agustus 28, 2008 pada 6:13 pm
“Adakah manusia jenuh menorehkan kebenaran….Adakah manusia melupakan arti kesetian Cinta dan kasih sayang terhadap sesama?”
ya, terkadang kita memang lelah dan juga bosan, namun kita tidak boleh berhenti, kita hanya butuh isirahat utk sementara, sekedar memupuk energi utk kembali melanjutkan perjalanan….
Agustus 29, 2008 pada 1:53 pm
“Orang kuat itu bukan orang yang bisa menaklukkan musuh dalam medan perang, akan tetapi orang yang punya kesempatan untuk marah tapi dia bisa mengendalikan kemarahannya” begitulah sabda Nabi SAW …
Semoga kita bisa saling memaafkan…