Arsip untuk cerita kehidupan

Ramadhan Pertama

Posted in memaknai hidup dengan kaitan (tags) , on September 1, 2008 by fahrizalmochrin

Titik mata air beruntai berlari tercurah dari cakrawala yang kelabu disabut mendung membasahi hari dipelataran bumi memberikan rahmatnya dalam RAMADHAN ..memanggil jiwa-jiwa yang kelu dibelai semilir angin yang damai dilingkup burung-burung yang berteduh dibalik dedauanan yang menghijau bertasbih memuji keagungannnya..di awal ramadhan yang mulia.

kehangatan sang mentari yang tersembunyi malu di antara awan yang menari berarak di langit cakwala menebar kelembutan hari bernyanyi dalam rindunya dihari yang rahmat tercurah dalam ihklasnya menititk air membasahi alam memberikan kehidupan di seluruh mahluknya..

Kicau burung pagi yang berkicau di ranting dedaunan bertasbih di awal ramadhan..gema takbir diawal malam dipanggilan hari ,di pagi di subuh pertama di ramdahan yang mulia kupanjatkan doa dalam munajat ku persembahkan ramdahanku teruntukmu YA ALLAH.

Titik gerimis di hamparan cakrawala masih menitik mengisi hari di awal ramadhan memberikan keteduhan di perjuangan mahluk yang berjuang dan melatih diri dalam menggapai ridho illahi, perjuangan mengurai sebuah makna mahluk yang hamba terhadap khaliknya, pelatihan jiwa melawan kezaliman diri, keihklasan berbagi dengan sesama dalam menjalani fitrahnya.

Ya Allah

jadikan   RamadhanMU

membasuh    luka  luka   Kami

Ya   Rabb

jadikan   RamadanMu

Menjadikan   kami

Pilihan    dari    UmatMU

Ya   Pemilik   Jiwa

Jadikan   ketenangan

di  hati  kami

Ya   pemilik  kehidupan

berikan keihlasan

dalam  kami mengarungi arti

Kepadamu kami Memohon dalam doa di sujud kami dipeluh di riak awan yang mengenang di pelupuk mata yang berarak di basuh mendung mengalir dibelai riaknya memohonkan ampunan dosa membasuh direlung jiwa di titik noda yang meraja diantara kelam yang menghitam..

Diramadhan Pertama perkenankan hambaMU mejejakkan langkah dalam RidhoMU..

Cermin

Posted in memaknai hidup dengan kaitan (tags) , , on Agustus 13, 2008 by fahrizalmochrin

Apa jadinya jika dirumah kita ndak punya cermin… pikiran itu sempat terlintas dibenakku ..merupakan suatu hal yang merepotkan sekali… Apalagi kalau mau menghadiri undangan kenegaraan pastinya menghabiskan waktu berjam-jam di depan cermin mengutak atik dandanan yang serasi,,, bak orang bilang lebih enak memuji diri sendiri di depan cermin sebelum dipuji orang laen..( perasaan dikit boleh lah..ketimbang ndak ada yang muji.) heehhee…

Kalau pergi ketukang cukur disetiap dindingnya berhiaskan cermin.. supir metro mini biar kata bermandikan keringat ndak kalah aksi ama pejabat kalo dah berada di depan cermin , kebiasaan bercermin milik siapa saja. Dengan bercermin seolah-olah menjadikan manusia lebih percaya diri ( itu kata guru saya..kalo berorasi di depan kelas harus banyak latihannya di depan cermin biar ndak gugup ) mungkin hal ini yang buat teman saya selalu percaya diri , walaupun pernah ketimpuk pintu keasikan bercermin dipelataran mall yang berhiaskan kaca..heehee..

Alkisah sang raja mengadakan suatu perhelatan di istananya mengundang para pelukis pelukis handal di seluruh penjuru negerinya, Berbagai pelukis handal dengan berbagai keahliannya mulai mengguratkan kuas di kanvas kanvasnya mempersembahkan karya terbaiknya di hadapan sang raja. Disetiap lukisan disediakan selubung ( biar ndak bisa nyontek kali yachh ).. diantara pelukis itu seorang pemuda hadir dalam perhelatan dengan berbekal sebuah pengikir mulai bekerja dengan tangannya penuh kehati-hatian, tak ada kanvas yang di goreskannya… tak ada tinta yang di bekalnya..sang raja bertanya..” hai pemuda mengapa belum kau goreskan sebentuk lukisan diatas kanvasmu..sementara waktu untuk kau persembahkan karyamu hampir usai.” Sang pemuda berujar ” Wahai paduka yang mulia hamba melukis dikanvas dengan hati, jika waktunya khan tiba akan saya perlihatkan hasil lukisan hamba dihadapan paduka.” Dan tibalah saatnya pelukis pelukis mempertontonkan keindahan guratan diatas kanvas membuat seluruh istana berdejak takjum..dan pada gilirannya sang raja memanggil sang pemuda untuk memperlihatkan hasil karyanya. Sang pemuda melangkah ke sebuah lukisan yang terindah dan meletakkan selubungnya tepat dihadapannya, perlahan dilepaskannya kain selubung yang menutupinya , sebuah cermin berkilau , bersinar-sinar memancarkan keindahan , cermin memantulkan keindahan disetiap sudutnya ketika tiitik matahari menembus dari langit-langit jendela bagaikan sebuah keindahan yang terhampar di dipelupuk mata , keindahan laksana taburan permata di lautan , menyempurnakan lukisan sang pencipta dan membingkainya dalam kebersihan hati dari debu-debu kehidupan. Cermin hati khan terjaga dijiwa memantulkan lukisan diri dalam cahaya illahi…..

Burung Kertas..

Posted in memaknai hidup dengan kaitan (tags) , , on Agustus 11, 2008 by fahrizalmochrin

Tak terasa dimalam yang bertemankan bintang anganku melayang jauh , bagaikan putaran waktu kenangan-kenangan masa kecil yang berkelebat mengisi sebuah ruang hampa memasuki dimensi kehidupan, dan aku berada didalamnnya berlari lari kecil diantara rerumputan yang hijau..berkejaran menyibakkan ilalang diantara capung yang berterbangan .Sekumpulan Anak yang bersorak Riang ketika dikantung plastik beningnya berdiam capung indah yang terperangkap tangan tangan mungil.,Dengan mengikat ranting dedaunan yang mengering diujungnya diikatkan sebuah kantung plastik sebagai jaringNYa, dengan langkah yang perlahan mengendap dibalik ilalang diayuhkan perangkapnya …hupp.. seekor capung malang terperangkap ,, ada kebahagian disana…

Sekelebat cahaya anganku terbang jauh meninggalkan capung-capung yang berterbangan diilalang yang menghiaju ,,,bergantikan burung burung kertas yang menjadi penghias menemani malamku…Burung kertas menjadi kenangan terindah dalam hati akan MU. kau rangkai kertas putih hati kami, kau cipta burung kertas dijiwa kami. dan kau hadiahkan burung kertas ketika kami bersedih , bayangan wajahmu hadir bersama burung-burung kertas yang terbang keangkasa biru, dan kepadaNYA lah kita Kembali……