Titik-titik hujan yang turun membasahi bumi, menggenang di hujung trotoar jalan dimalam-malam yang larutkan hening..langkahku terhenti diketeduhan sebuah rindang pepohonan hijau nan rindang melepaskan lelah di ttitik air yang memberikan karunianya.
Kembali ku kembali di pelataran kota yang telah lama tertinggal jauh di penghujung belahan dunia..lintasan yang tak lagi sama, pepohonan yang menjulang..warna-warna penghidupan yang bergerak maju..dipenghujung hari yang merobek hari..manusia -manusia yang menapaki hari dalam mengakais lembaran-lembaran rejeki illahi dalam kepenatan hari dalam peluh..
Diantara Terik mentari beralaskan peluh, di malam yang pekat riak-riak kehidupan malam bergajut memberi warna diantara kehidupan yang bergulir..Kehidupan yang terus berputar disisa hari sang pencari yang membalut cinta dalam memapah kehidupan di belai malam digelar secangkir kehangatan bertemankan semburan asap yang mengawan terperi menatap arah kehidupan..
Kehidupan yang tak pernah lelah menebar hari,..Matahari yang tak pernah jenuh menebar sinarnya…Rembulan yang setia menemani Malam…Adakah manusia Lelah mengarungi Hidup..Adakah manusia jenuh menorehkan kebenaran….Adakah manusia melupakan arti kesetian Cinta dan kasih sayang terhadap sesama…Adakah tersedia kemaafaan yang terukir di relung jiwa…
Ketika Pintu Kemaafan terlebar luas di rahmatnya..adakah manusia yang terpenjara dalam kebencian menyelimuti dendam..terkukung rasa..melupakan makna keikhlasan meraih kedamaian..Dititik hujan yang membasahi bumi yang teramat rapuh dilangkah yang terkulai lelah ku genggam asa tuk kembali menuai arti kemaafan diri.